Pria Berbaju Biru



"Dia.., Pria baju biru itu kembali berada tepat di depanku, ini sudah ke tiga kalinya kami berada dalam sebuh gerbong kereta. Mata itu,... mata itu seolah terus mengawasi gerak gerikku atau ini hanya perasaanku saja, jangan jangan mataku yang terus mengawasi gerak geriknya, haish... masak iya aku kepincut sama orang yang tidak kukenal sama sekali, siapa namanya, dimana tinggalnya, atau jangan jangan suami orang lagi, oh nooo,... aku harus berbalik membelakanginya, malukan kalau tiba tiba dia tahu aku sedang ge er"

Baru saja Lisa membalikkan badannya, sontak dia kaget, dan kembali membalikkan badannya menghadap pria baju biru itu lagi.

"Astaghfirullah,... sedang apa pria dibelakangku ini, gawat! aku harus pindah, iiihhh, jijiiiikk!"

Lisa merangsek maju kedepan mendekati pria baju biru di depannya, seolah mengerti, pria baju biru itu memberi tempat untuknya.  kini lisa tepat berada di depan pria baju biru itu. Senyaaappp, tidak ada suara, tidak ada salam sapa, lidah lisa terasa kelu, entah kemana suara lisa yang nyaring itu, bahkan sangkin nggak bisa diam, ia dapat predikat lisa ceriwis, tapi,... hari ini sepertinya predikat itu, salah alamat. Tak lama kereta pun berhenti di stasiun senen, Lisa bergegas turun dari kereta.

"huf,.. " Lisa menarik nafas panjang, seolah baru lepas dari sekapan penyamun,

***

Sepanjang perjalanan menuju kantornya, Lisa senyum tersipu malu, pipinya merah merona, terukir senyuman tipis yang berusaha ia sembunyikan. Sesampainya di kantor, Lisa meletakkan tasnya di laci mejanya. Pria berbaju biru itu, terus berputar putar di kepalanya.

"Assalammualaikum, nona lisa..." Sapa Gendis yang dari tadi memperhatikannya.

"Waalaikum salam, Gendis... bikin kaget aja!"

"Duh, yang lagi kasmaran, senyum senyum sama tembok, hihi.."

"Gendis, sana ah, ganggu aja!" wajah Lisa semakin memerah, ia buru buru mencari kesibukan, membuka komputer di depannya.

"Cuit, cuit...Kauuu pakai baju biruuu... oh, berbunga haaatikuuu,...haha" Gendis segera melarikan diri melihat gelagat lisa yang akan segera menimpuknya dengan streples.

 ***

"Lisa, tumben jam segini udah masuk kamar, kamu sakit?" tanya Dela teman kosan lisa

"Nggak kok, mbak, aku cuma mau istirat, tadi di kantor banyak kerjaan" sahut Lisa sekenanya

Di dalam kamarnya yang berwarna ungu itu, Lisa melanjutkan hayalannya, tersenyum pada dinding yang dihiasi dengan stiker kupu kupu. Ia memeluk gulingnya dengan manja, sehingga bunyi getaran ponselnya mampu membuatnya terkejut dan melompat dari tempat tidurnya. ia menarik napas panjang,

"huf,.. duh, bikin kaget aja nih handphone" gumamnya sambil membuka pesan yang masuk.

"Whaaaat, ada yang mau taaruf denganku" seketika, bayangan pria baju biru itu hilang dari kepalanya. ia tersadar dari lamunan yang sempat membuatnya melayang layang seperti sedang mabok kopi.

***

"Astagfirullah, Pria baju biru itu lagi, kali ini aku tidak boleh melirik lagi padanya, aku harus menjaga pandanagnku, bismillah" gumam Lisa dalam hati, ia membelakangi pria yang terus menghantuinya itu. Kereta terus melaju menghantarkan penumpang ke stasiun demi stasiun, Lisa turun di stasiun senin seperti biasa. Kali ini, dia benar benar berusaha keras mengendalikan pikirannya. Tapi sepertinya usahanya akan sia sia, sebab pria baju biru itu kini berjalan tepat di depannya.

"Nih orang mau kemana sih, nggak biasanya dia turun di sini" Gumam Lisa
 Lisa semakin gusar, melihat pria itu memasuki gedung tempat ia bekerja.

"Assalammualaikum, Pagi Pak Irfan" Sapa Gendis saat berpapasan dengan pria baju biru itu.

Lisa yang melihat itu, berusaha untuk tetap tenang, lalu dengan wajah polos ia mendekati Gendis

"Ndis, emang itu tadi siapa?"

"Yang mana?" tanya gendis sambil mengerutkan dahinya

"Yang barusan kamu sapa tadi?"

"wh, itu pak Irfan, owner perusahaan ini, emang kamu belum kenal? tanya Gendis mendadak, membuat Lisa gugup dan salah tingkah

"Belum, aku nggak pernah ketemu sebelumnya di kantor ini" jawab Lisa sambil mencari kesibukan

"Tapi, Ndis, sepertinya tadi kami satu kereta dan di gerbong yang sama, masak pak Irfan naik kereta, bukannya kamu bilang tadi dia owner perusahaan ini?" tanya lisa berhati hati

 "Pak Irfan rumahnya jauh di Bogor, Ia lebih memilih naik kereta daripada naik mobil, lagian tidak setiap hari kan pak Irfan masuk kantor, paling kalau mau bertemu klien, pak Irfan pake mobil kantor" Gendis menerangkan dengan antusias.

"Ndis, Pak Irfan udah married belum?" tanya Lisa berbisik

"Wahaahaa.., hayoo, Kamu naksir ya sama pak Irfan? Goda Gendis

"Diiih, ya enggak lah, kenal juga enggak?!" Wajah Lisa kembali memerah

"Eh, Sa, nggak apa-apa kali..., Aku juga naksir kok sama pak Irfan, udah ganteng, baik, pintar, tajir lagi, duuh, wanita mana coba yang nggak kelepek kelepek?"

"Aku doain deh, semoga Kamu beruntung, Ndis" kata Lisa sambil membuka ponselnya membaca pesan yang baru masuk.

Lisa menarik napas panjang, pesan yang kembali mengingatkannya untuk hadir di rumah kakak asuhnya untuk taaruf dengan seorang ikwan

***

Ghorden pembatas pun dibuka, Lisa hanya menunduk, menunggu arahan dari kak Salwa dan suaminya. Setelah doa kafaratul majelis usai dibaca, Bang Ahmad suami kak Salwa mempersilahkan pria yang duduk di sampingnya untuk memperkenalkan diri.

"Assalammualaikum, terima kasih saya ucapkan kepada bang Ahmad dan kak Salwa yang sudah bersedia menjadi perantara kami bertaaruf"

Lisa mendengarkan dengan seksama suara yang masih asing di telinganya.

"Dan saya ucapkan terimakasih juga untuk dek Lisa yang sudah bersedia hadir memenuhi undangan ini, perkenalkan nama saya Gilang Maulan"

Lisa hanyut dalam suasana taaruf, kini bayangan pria berbaju biru itu luluh lantak dan sirna tertimbun alunan suara lembut nan berwibawa di hadapannya. Kini hatinya mantap melangkah menuju masadepan bersama pria yang akan segera mengkhitbahnya.

  baca yang ini juga ya
http://www.kamkayah.com

22 komentar:

  1. Ah ceritanya bikin deg deg ser nih. Pak Irfan sama yg lain aja kalo gak dapet Gendis hehe. Bagus mba ceritanya. Ayoo lanjutnya jadi novel ~

    BalasHapus
  2. Wah ternyata mba suka bikin cerpen juga ya. Tadi aku sangka awalnya lelaki baju biru itu pencuri digerbong yang kerjaannya bikin geer orang padahal niatnya mau nyuri hihihi. Tapi ternyata nyuri hati 😂

    BalasHapus
  3. Lhah...tadinya kukira, yg dateng taaruf pa Irfan itu. Haha...
    Yawda...buang jauh² deh bayangan pa Irfan.

    Ada lanjutannya ga?...

    BalasHapus
  4. Iya mbak aku kira juga P Irfan yang datang.. Kan biasaanya suka gitu endingnya hehe. Udah syukuri ja ya D Lisa. Keren mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha,..
      saya ingin menyampaikan di cerita ini, bahwa menjaga hati sebelum menikah itu, akan memudahkan kita menerima cinta yang datang dengan tulus

      Hapus
  5. Cerpen yang bagus mbak, mudah mudahan semakin banyak orang yang meninggalkan pacaran sebelum nikah ^_^ .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin,
      iya, mbak cerpen ini, saya buat sekalian kampanye, tidak pacaran sebelum menikah

      Hapus
  6. Duh, happy ending. Ternyata ga sama pria berbaju biru, hehe. Tapi seneng lah karena akhirnya Lisa bisa taarufan. Lanjut terus fiksinya, Mbak. Sip.

    BalasHapus
  7. Wkwkwkwkwk, jadi inget zaman may dikenalin sama suami😂😂

    BalasHapus
  8. Aduh sedikit kecewa... Ternyata Lisa menerima lelaki lain yang taaruf dgnnya. Tdnya berharap cerpennya agak dipnjngin dikit dan happy ending dgn pria berbsju biru. Hehe..
    🙏🙏🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih masukannya mbak,
      Insya Allah di cerpen berikutnya bisa lebih panjang lagi ya

      Hapus
  9. Yaaa.. Bukan Pak Irfan yang taaruf hiks
    Tapi semoga bahagia Lisa dan Gilang Maulan..

    BalasHapus
  10. Pak Irfannya kemana ya?
    Belum.jodoh ternyata ya Mba..hehehe

    BalasHapus
  11. Bagus mbak ceritanya. Cuma penulisannya banyak yg perlu diperbaiki, antara lain penulisan kata depan, penulisan dialog tag, dll, Kalau nulis di blog gakpapa sebebasnya. Tapi kalau mau diterbitkan jadi novel saran saya diperbaiki EBI dan cara nulisnya dulu. Sayang kalau cerita bagus gak lolos editor hanya karna penulisan. Sip 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, meski belajar nih dari mbak Emmy, makasih sarannya mbak

      Hapus