Sayangi Aku Bunda


Sumber: fixaby
  "Mengapa aku terus yang dimarahi, salahku apa, Bun?" Tanya Fika pada bundanya yang masih melotot padanya.  "Masih nanya? Bukannya minta maaf malah nantangin, kakak macam apa kamu?"  Bentak bunda sambil berkacak pinggang pada Fika.   Fika hanya terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa pada bundanya. Hatinya kesal dan marah namun ia tak tahu harus berbuat apa selain cemberut dan masuk ke kamarnya lalu tidur memeluk bantal.   "Kakak cengeng ya, Bun! Gitu aja nangis, haha... kakak cengeng ... kakak cengeng... " Riski terus mengolol olok kakaknya.  Bunda hanya diam saja tanpa berkomentar apapun. Fika yang merasa diejek oleh adiknya sendiri semakin kesal. Fika melampiaskan kekesalannya dengan berteriak dan membentak adiknya. "Riski..... pergi sana.... " bantal yang didekapnyapun melayang ke arah Riski.


Karena usianya masih tiga tahun, Riski jatuh terduduk di lantai, lalu menangis, sambil berteriak bunda.... bunda... Bunda yang mendengar kegaduhan di kamar segera datang. "Astaghfirullah... Fika... kamu apain lagi adik, Kamu?" Mata bunda kembali melotot pada Fika. "Riski ledekin aku terus, Bun... " kata Fika sambil berterik kesal "adik kamu kan masih kecil, Fika, dia belum tahu apa apa, kamunya aja yang kayak anak kecil, begitu aja marah, kakak macam apa kamu?" Sambil menggendong Riski, bundapun berlalu dari kamar Fika.   Rumah yang dihuni oleh empat anggota keluarga ini, selalu ramai dengan kegaduhan Fika dan Riski.

Bunda yang selalu membela Riski, memperpanjang drama di rumah ini.   Di pagi yang cerah setelah mengantar Fika ke sekolah, Bunda membuka WAG nya sebelum memulai aktifitas memasak. Bunda tersentak saat membaca sebuah quote tentang kesalahan orang tua yang tanpa sadar sering menjatuhkan harga diri si kakak di depan sang adik. Bunda menghela napas panjang, terbayang wajah Fika yang selalu kesal pada Riski, bagi Fika memiliki adik itu sangat menyebalkan. Bunda mulai menyadari kesalahannya, mungkin karena terus membandingkan Fika dengan teman temannya yang terlihat ngemong ke adiknya, membuat bunda selalu menuntut hal yang sama pada Fika.   Matahari telah meninggi dan memancarkan teriknya yang menghangatkan bumi. Bunda bergegas mengeluarkan motornya, Riski duduk di bangku tempel depan, keduanya berangkat menjemput sang kakak.

 " Assalammualaikum, " sapa Fika sambil mencium tangan bunda. " waalaikum salam, sayang" senyum bunda merekah dan mengusap kepala gadis kecilnya. Dalam hati bunda bertekat untuk meperlalukan sang kakak lebih bijak lagi.   "Riski.... kamu ganggu aja... kakak  baru pegang remot kamu langsung rampas" teriak Fika kembali seperti hari hari sebelunya. Riski yang merasa selalu dibela bunda, menangis sambil manggilin bundanya.   Bunda seger menghampiri keduanya, namun kali ini bunda tidak melotot lagi pada Fika, ia berusaha bicara pada Riski. "Riski sayang, jangan ganggu kakak dong, biarin kak Fika istirahat sebentar sambil nonton tv, Riski main sama Bunda dulu, yuk!" Suara bunda terdengar lembut dan ramah, Fika seakan tercengang melihat reaaksi bunda yang tidak seperti biasa. Riski meronta ronta tidak mau, ia bersikeras ingin merebut remot tv dari kakaknya. Namun, bunda tetap bersabar membujuk Riski agar tidak mengganggu kakaknya.  Karena merasa kesulitan menenangkan Riski yang akhirnya mengamuk karena keinginannya tidak dituruti, bunda meminta pada Fika untuk mengalah sembari bunda berjanji akan berusaha memberi pengertian pada Riski.

Walau cemberut Fika memberi remot tv pada Riski kemudian berlalu ke kamarnya. Karena sudah mendapat apa yang diinginkannya, Riski pun berhenti menjerit. Bunda mendekati Fika yang baru sahaja merebahkan tubuhnya di kasur.  "Sayang, kamu sedang apa?" Belaian tangan bunda lembut menyentuh rambut Fika. "Lagi tiduran aja, Bun, kesal sama Riski, egois banget!" Wajah Fika bertekuk, bibir mungilnya monyong ke depan. Bunda tersenyum melihat ekspresi Gadis kecilnya yang kini duduk di kelas lima sekolah dasar.  "Fika yang sabar ya, sayang. Bunda janji pelan pelan akan bunda beri pengertian pada Riski agar bisa berbagi, tapi janji, kakak harus bantu bunda, nggak boleh galak sama adik ya" senyum bunda menyejukkan hati Fika yang kesal pada adiknya. "Fika menganggukkan kepala tanda setuju, ia merapatkan tubuhnya dengan manja pada bundanya.y

17 komentar:

  1. Ini kejadian di rumah juga nih...Si Mas dan Si Adik hadehhh berebut ini itu, berbantah daan enggak ada yang mau ngalah...Pusiiiing
    Terima kasih sudah diingatkan ya Bun..jadi senyum-senyum aja bacanya, samanya anak-anak kita yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. kita nikmati saja tingkah laku mereka ya mba, agar menjadi cerita indah di saat mereka besar nanti

      Hapus
  2. Kisahnya kayak aku waktu kecil deh bunda..selalu aku yg dimarahin sama mama bilang 'nih mama kasih pisau sok berantem' huh.. adik aku cowo ya Allah annoying banget pada saat itu dan mama selalu ngebela (sempet agak bete sama mama dan gak suka). Mungkin kalo lebih akur sedari kecil pasti sudah besarnya pun akan saling menghargai yah bun

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, saya pun banyak belajar dari kisah ini, agar tidak berat sebelah dalam memperlakukan anak anak di rumah, agar sama sama merasa di sayang

      Hapus
  3. Here mirip anak2ku dulu... Tapi seiring berjalannya waktu mereka sdh tahu dan paham bagaimana agar mamanya gak uring-uringan. Thx mb tulisannya mengingatknku hmm kmrin2... 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepertinya hampir setiap ibu mengalami kisah seperti ini ya mba, dan menjadi cerita saat mereka besar nanti

      Hapus
  4. Alhamdulillah...anak2 di rumah ga ada yg seperti itu, apa karena beda umur yg jauh saya ya. Si kk sayang banget sama adiknya. Kemana saja dia main, adiknya dibawa. Dia gendong si Ade. Kknya laki & adenya perempuan. Sampai besar keduanya sangat dekat.

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah, beruntung banget bun, punya anak bisa saling akur apalagi si kakak mau ngemong adiknya. semoga anak anak saya juga bisa begitu, Aamiin

    BalasHapus
  6. Anak-anak ku juga begitu suka berebut kalau sudah begitu saya ambil dan simpan. Kalau sudah janji mau barengan baru ku kasih deh. Hehehehe

    BalasHapus
  7. Sebagai ortu kita memang harus pandai memperlakukan anak ya mba. Adil dan tidak membela salah satunya. PR banget buat ortu muda seperti saya. Eaaaa (((muda)))

    BalasHapus
  8. Kita sebagai orang tua haris belajar untuk bijaksana ya, mbak.
    Kalau aku slalu mengalami klo mreka saling mengadu bergantian. Krn jarak umur yg berdekatan jd nnt kadang berantem, kadang maen lagi , hihihi.

    BalasHapus
  9. Saya sama kakak saya juga sering berantem terus tapi saat udah gede enggak. Sampe ibu saya capek marahin kami hehe. Duh tulisannya mengingat masa2 lalu hihi.

    BalasHapus
  10. Kok aku sedih ya Bun bacanya. Drama kaka dan adij suka berantem itu hal biasa dan wajar. Tapi aku suka sedih klo sosok kakak itu harus selalu mengalah pada adik, ibu yang suka membela adik, atau ibu yang menjatuhkan marwah sang kakak dngan memarahinya depan si adik. Akhirnya kakak membenci adiknya smp dewasa. Banyak kasus yang begitu, ya. Semoga banyak orangtua yang seharusnya belajar ilmu parenting agar bisa adil menjadi orangtua.

    BalasHapus
  11. Sedang terjadi di rumah saya, hehe. Karena si kecil memang lagi ingin tahu banyak hal dan belum kenal hak milik. Pelan2 memang saya beri pengertian. Alhamdulillah, kakaknya bisa paham. Mungkin karena jarak usia mereka berjauhan, si kakak memilih tuk 'lebih bijaksana' :)

    BalasHapus
  12. Seringkali adik kecil mendapatkan pembelaan yang berlebihan dari bundanya, hehehe. Kasihan si kakak kalau sudah begini. Cerita yang inspiratif bun jadi bisa instropeksi

    BalasHapus
  13. Persis DuoNaj. AKu juga sering merasabersalah sama Najwa, soalnya Najib emang nggak mau kalah. Pelan-pelan sedang berusaha lebih tegak di tengah. NGgak mudah, tapi harus dibiasakan.

    BalasHapus
  14. Jadi ortu memang susah utk berlaku adil ya mbak. Apalagi kalau sudah menyangkut pertengkaran adik kakak. Dan memang sih, si kakak selalu yg harus berada di posisi mengalah. Tapi hak ini juga ga bagus kalau berkelanjutan ya mbak. Nanti si kakak jdi hilang empati, si adek pun jadi semakin lupa diri. Baiknya memang harus adil ya mbak.

    BalasHapus