Awalnya Dipaksa Akhirnya Aku Suka Menjadi Tenaga Analis Kesehatan



Halo kawan kamkayah....

kali ini aku mau bercerita mengapa  aku memilih menjadi tenaga Analis Kesehatan. setiap orang pasti punya cerita mengapa ia berada disuatu lingkungan pendidikan, iyakan? saya yakin pasti banyak cerita hingga membawanya keposisinya.

Sejujurnya, dulu aku nggak tertarik dengan dunia kesehatan, ... hiks..
aku dulu punya cita cita ingin jadi wartawan atau fotografer #eaa haha... entah dari mana keinginan itu akupun tak tahu, tapi aku sangat tertarik dengan dunia digital. apalagi saat itu salah satu usaha bapak adalah studio foto dan jual alat tulis kantor, dengan senang hati setelah pulang sekolah aku rela jadi karyawan jagain toko, bagiku itu sangat menyenangkan.

Tapi setelah lulus SMP, bapak mendaftarkan aku ke SMAK yakni Sekolah Menengah Analis Kesehata. karena tanteku lulusan dari situ, jadi bapak mengikuti saran tante agar aku menempuh pendidikan disana. walau air mataku berderai # huaaa, udah kayak drakor aja ya...
tapi ini beneran bukan hoak lho, kawan, jadi aku ngisi formulir pendaftaran sambil mewek,hihi... tapi sepertinya tekad bapak sudah bulat untuk menjadikan aku sebagai tenaga kesehatan. ya sudahlah, sebagai anak yang sholeha,#thsah... aku nurut ajah...

seiring berjalannya waktu, aku mulai munyukai jurusan yang dipilih bapak, walau aku jungkir balik mengikuti pelajarannya, namun aku tetap berjuang sekuat tenagaku agar tidak tinggal kelas, kalau untuk jadi juara, jangan diharap deh, bisa naik kelas aja udah bersyukur, hahahha....

Semester pertama mengikuti pendidikan ini aku ambruk, tepatnya bulan kedua, aku terkena vertogo, padahal saat itu usiaku masih 15 tahun, setelah selesai mandi aku bersiap untuk sarapan sebelum berangkat sekolah, tapi saat aku menuju meja makan, tiba tiba saja dunia terasa berputar aku langsung tersungkur di lantai, muntah dan tak bisa bangun, jangan ditanya paniknya bapak dan mamak saat itu. Setelah memopongku ke kamar, mamak memanggil dokter kerumah.

Dokter bilang aku stres berat, sehingga butuh istirahat selama satu bulan. bagaimana tidak stres, setiap hari aku harus menghapal rumus kimia, walau aku suka di sekolahku ini tidak ada matematikanya, tapi pelajarannya 70 persen kimia semua, hiks, aku tidak tahu harus senang atau meradang.

Namanya juga jadi calon tenaga untuk laboratorium tentu saja yang dipelajari nggak jauh dari kimia, darah, urine, feaces, sputum, dan yang jorok jorok lainnya. #nasib dah... hahaha....

Tapi banyak hal menarik yang kutemui disini, aku bisa melihat dengan jelas bentuk darah merah atau yang biasa disebut Erytrosit, aku bisa melihat bentuk darah putih atau leukosit dan bentuk trombosit. begitu juga dengan bentuk bentuk sedimen urine, kristal kristal indah yang berkilau di dalam mikroskop, aku bisa melihat bentuk bakteri yang lucu dan unik, Maha Besar Allah atas semua ciptaanNya. semua itu adalah ciptaan Allah, dan aku sangat beruntung bisa melihat dan menyaksikan indahnya molekul molekul yang tak terlihat oleh mata.

sumber :the conversation
sumber : analis smak bantul

Aku bisa melihat telur cacing, yang beraneka ragam, aku bisa melihat amuba yang bergerak dan terus membelah diri, aku bisa melihat sel ganas yang menggerogoti tubuh manusia. aku juga bisa menyaksikan langsung indahnya warna warni reaksi kimia saat praktikum. aku bisa mendeteksi kadar gula dalam permen, aku bisa mendeteksi kuman dalam air, aku bisa mendeteksi e.coli pada es krim langgananku, haha... pokoknya aku suka menjadi analis, terimakasih Bapak sudah memaksaku menempuh pendidikan ini.

Walau setelah bekerja, upah yang kudapatkan tak sebanding dengan resiko yang kuterima, pekerjaan paling beresiko terpapar dan tertular infeksi di Rumah sakit. Mungkin tidak semua teman teman bernasib sama denganku yang hanya bekerja di laboratorium rumak sakit swasra, sehingga upahnya terbilang sangat minim. yupt, tenyu saja rezeki sudah ada yang mengaturnya, buktinya teman temanku yang dulu belajar bareng di sekolah kini sudah menjadi petinggi di instansinya masing masing, begitu juga dengan teman teman kuliah ketika aku melanjutkan pendidikan ke poltekkes, mereka juga sukses dan mendapat penghasilan yang besar.

Namun aku tetap bersyukur walau peruntunganku di dunia kesehatan kurang beruntung, tapi aku bersyukur pernag menjadi bagian dari mereka. Banyak keajaiban Allah yang kutemukan disana menambah keyakinan dan keimananku padaNya.

Nah, itu ceritaku, bagaimana dengan ceriutamu, kawan?  




10 komentar:

  1. Memang kita inginnya sesuai dengan aspirasi ya mba.. cuma terkadang aspirasi dan keinginan kita terkubur jauh, dan orangtua kita sebenarnya sudah melihat bakat kita.

    Nice sharing mba, salam kenal saya Nana

    BalasHapus
  2. Selalu ada hikamh di setiap langkah Mbak..
    Jika teman sudah sukses menurut pandangan kita, ingat juga kita pun sukses di hal yang berbeda.
    Tetap semangat yaaa :)

    BalasHapus
  3. Wah kok aku jadi ikut ngerasain yg bunda rasakan waktu awal masuk jurusan yg ga di sukai. Tpi bunda anak yg baik mau nurut ☺️

    BalasHapus
  4. Salah jurusan sepertinya dialami banyak orang. Tapi yang penting memang menemukan kesenangan dalam sedikit kesalahan tersebut. Yakin deh, pasti ada hikmahnya.

    BalasHapus
  5. Wah paksaan sekolah disana membuat banyak keberkahan ya mba, hehe. Saya jadi penasaran sama bakteri2 di bawah mikroskop, dulu jaman SMAN ngeceknya gak detail jadi masih penasaran haha.

    BalasHapus
  6. Menarik mbak. Blognya bisa juga diisi info seputar kesehatan. Menarik juga lihat amoeba bergerak. Semangat bekerja, insya allah menjsdi berkah.

    BalasHapus
  7. Saya juga sepertinya "saljur" mba. Anak IPS masuk HI, kuliah diplomat bekerja di bag marketing bank asing, sekarang banting setir jadi penulis hahaha. Just enjoy my life aja

    BalasHapus
  8. Wah lihat amuba dan teman-temannya itu secara langsung biin saya penasaran sejak dulu. Ingat masa SMA waktu praktik Biologi, hehehe

    BalasHapus
  9. Tetap semangat & sukses selalu ya Mba

    BalasHapus
  10. Hihihi, keren mbak. Saya malah iri sama temen2 analis kesehatan di sini. Kalau saya sendiri sudah mencoba menikmati. Tapi...kesehatan yang tidak menunjang. Karena beban kerja terlalu tinggi. Apalagi berhadapan dengan pasien langsung, yg bertaruh nyawa. Jadilah saya memutuskan pindah haluan sesuai kemampuan 😁😁

    BalasHapus