Study Tour Kampus POLTEKKES Medan Mengunjungi Rumah Sakit Kusta Lau Simomo




sumber google

Dulu masyarakat mengira bahwa penyakit kusta atau Hansen adalah penyakit kutukan. sehingga penderitanya harus diasingkan. Namun seiring berjalannya waktu, kini masyarakat sudah mulai menyadari bahwa penyakit kusta adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman mycobacterium Leprae. Indonesia menempati urutan ketiga setelah Brazil dan India, karena itu penderita kusta di indonesia terbilang cukup tinggi.padahal kuman ini membutuhkan waktu 6 bulan sampai 20 tahun untuk berkembang didalam tubuh setelah terinfeksi. namun karena stikma yang negatif dan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang kusta, maka penanganan sejak dini selalu terlambat di lakukan.

hari itu, kami berangkat menuju sebuah desa di kawasan kabanjahe, Sumatra Utara. kami menaiki bus parawisata, semua mahasiswa larut dalam kecerian, tawa canda dan nyanyian kecil terus mewarnai perjalan study itu. lagu shella on seven mengiringi putaran roda bus menuju desa tujuan. lagu lagu romantis seperti jadikanlah aku pacarmu dan shephia yang paling saya ingat. jadi kamu tahukan tahun berapa peristiwa ini, haha....

dua jam perjalan kami tempuh tanpa terasa, kini kami memasuki desa tujuan. desa yang subur dan hijau. terlihat sekali jika penduduk setempat berprofesi petani sayur. cabe merah, daun bawang, bawang merah, kol, buncis, wortel, terong, labu jipang, kacang panjang dan masih banyak sayur mayur lain yang tumbuh dengan subur di desa ini.

Sesampainya ditujuan kami di sambut oleh direktur Rumah Sakit tersebut, sayangnya, Aku lupa nama beliau. setelah selesai melakukan perkenalan kami diajak berkeliling ruangan. ada yang masih di isolasi, ada juga yang sudah bebas berkeliaran, dan ada pula yang sudah menetap dan menjadi penduduk desa itu karena enggan kembali pada keluarganya.

ada kisah pilu yang hingga saat ini sulit aku lupakan, yakni ketika kami praktek pengambilan sampel darah pasien. saat itu aku dan tiga orang temanku ditunjuk oleh dosen untuk mewakili pengambilan sampel. Muncul seorang pemuda bertubuh kekar, ia tampak malu malu duduk dihadapan kami, ibu perawat yang bertugas saat itu menjelaskan bahwa pemuda tersebut adalah seorang polisi. ia sudah dua tahun berada ditempat ini. ia hanya menunduk saat petugas menceritakan riwayatnya. walau dokter menyatakan ia boleh kontak dengan keluarganya, namun ia memilih untuk tetap tinggal di desa itu.

sumber alodokter
tidak ada cacat fisik yang dialaminya, hanya ada lesi pucat di tangannya dan indra perasanya tidak berfungsi. jika dilihat sikilas tidak akan ada yang menyangka jika ia adalah penderita kusta. aku dan ketiga temanku  memakai sarung tangan dan mengeluarkan lancet untuk menyayat ujung telinga pasien dan mengambil sampel darahnya. sejujurnya aku sangat takut melakukan pengambilan sampel itu, takut kalo aku terkontaminasi dengan kuman lepra yg ia derita, takut kalo goresan lancetku akan melukainya. sebagai mahasiswa yg belum berpengalaman tentu ini menjadi peristiwa yang luar biasa perasaan takut, senang , sedih, bercampur menjadi satu.

setelah selesai mengambil sempel, kami diajak berkeliling oleh petugas setempat, ternyata desa itu sudah diwakafkan untuk penderita kusta, karena setelah dinyatakan sembuh oleh dokter, tidak banyak yang bersedia kembali kekeluarganya. mereka memilih tetap tinggal di desa tersebut. ahkirnya mereka menikah sesama penderita kusta, dan pemerintah setempat membuatkan mereka pondok walau terlihat sangat sederhana, tapi  mereka sangat bersyukur dengan yang mereka dapatkan.

sumber google
dihalaman rumah mungil yang terbuat dari papan dan bambu itu, ditumbuhi pohon cabe merah yang ranum, ada kentang, wortel terong dan beberapa sayur mayur lainnya. Dari sanalah penghasilan mereka untuk bertahan hidup. setiap hasil panen mereka dikumpulkan dan dijual kepasar. tidak semua pasien boleh bebas keluar masuk desa, hanya pasien yang dianggap sudah sembuhlah yang diizinkan keluar masuk desa.

aku dan  rombongan mahasiswa sangat antusias mendengar kisah dan cerita mereka. banyak dari mereka yang tadinya gelandangan karena dibuang keluarganya, akhirnya oleh pemerintah setempat ditampung dan diterapi di Rumah sakit lau simomo tersebut. Karena waktu berkunjung habis, rombongan pun berpamitan. terlihat wajah wajah penat menaiki bus.

karena hari masih siang kami memutuskan untuk berhenti sejenak di Sembahe yakni sebuah desa wisata air. disana ada sungai yang bersih dan jernih, bebatuan alam pegunungan yang besar menambah keindahan tempat itu. Karena ini diluar rencana tidak ada mahasiswa yang bawa baju ganti, tapi bukan mahasiswa namanya kalo tidak nekat, haha...

sumber gambar Tribun Medan

yapt, kami nekat nyebur ke sungai dengan pakian utuh, kebayangkan gimana gilanya angkatan kami saat itu, tapi kami tahu diri kok, yang basah kuyup semua berdiri, sungkan  sama abang sopir haha,... salut deh sama kawan kawan, walau nekat sopan santun tetap di jaga.

Sepulang dari study tour, aku seperi orang aneh, setiap hari aku mencetin telinga kanan dan kiri, takut kalau tiba tiba mati rasa, begitu juga ujung jari, aku tekan tekan dengan kencang. kadang aku panik sendiri saat aku tidak merasa sakit di daerah yang kupencet. kejadian itu terus berlangsung selam satu bulan. Walau perasaan takut menyelimuti pikiranku tapi aku malu jika ada yang tahu halusinasi yang kurasakan. tempatku mengadu hanya pada Allah. bermohon agar melindungiku dari segala penyakit.

Kini, hanya kenangan itu yang terlintas dipikiranku, kenangan yang takkan terlupakan, bagiku itu adalah pengalaman  hidup yang sangat luar biasa, yang selalu menyadarkanku untuk selalu bersyukur atas RahmadNya, atas Nikmat sehat yang diberikan padaku dan keluargaku.


18 komentar:

  1. Kenangan yang menambah pengetahuan ya mba. Terima kasih membaca ini membuat aku jadi harus banyak bersyukur.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, kenangan yang mengingatkan saya untuk slalu bersyukur

      Hapus
  2. Belajar menerapkan ilmu, belajar berempati, sangat membekas di hati ya mbak. Orang kesehatan seperti kita memang mudah tersentuh dan mudah parno sama penyakit menular. Lebih -lebih dari orang awam parnonya. Btw masih ada kah kampung kusta tersebut mbak? Kasihan ya mereka seperti terasingkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ummu arahma juga orang kesehatan ya?

      Masih mbak, karena itu milik pemerintah

      Hapus
  3. Rasa syukur harus selalu dipupuk ya Mbak. Apalagi mengingat begitu banyak saudara-saudara kita yang sakit, termasuk penyakit kusta. Terima kasih ya sudah membagi ceritanya.

    BalasHapus
  4. Nikmat sehat adalh nikmat utama yang musti disyukuri ya Mbak :)
    Terima kasih sudah berbagi cerita ini

    BalasHapus
  5. Merinding aku bacanya Mbak, tapi sangat menambah pengetahuan. Sungguh sebuha pengalaman yang berharga karena bisa berinteraksi lgs dengan mereka

    BalasHapus
  6. rasa syukur selalu muncul saat kita melihat sesuatu di sekitar yang kadang lupa kita syukuri ya mbak

    BalasHapus
  7. Terimakasih untuk kenangannya mba. Aku yang membaca mengambil hikmah dari cerita mba... semoga Allah senantiasa memberi kita nikmat sehat. Aamiin

    BalasHapus
  8. Terimakasih sudah berbagi kenangan. Ilmu baru buat aku mba...

    BalasHapus
  9. Lagu sheila on seven itu ... sepertinya saya tahu, tahun berapa itu mbak hehehe.
    Btw terima kasih untuk share pengalaman saat di rumah sakit ya mbak, tambahan wawasan kesehatan buat saya yang non medis ini.

    Kalau di dekat daerah kami ada itu mbak, Rumah Sakit Kusta Sumber Glagah, Mojokerto.
    Namun sudah jadi rumah sakit umum, sepertinya mbak.

    BalasHapus
  10. Generasi jaman old ya kayak saya yang sempat melihat kejayaan Shella On Seven hehe...Alhamdulillah info yamg mb ulas bermanfaat. Setidaknya saya bersyukur dengan kondisi kesehatan dll yang dilimpahkan Allah..Semoga kita semua selalu dilindungiNya..Aamiin

    BalasHapus
  11. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  12. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  13. Tour yg penuh manfaat & pelajaran berharga ya mba...

    BalasHapus
  14. Iya. Dl penderita kusta dikucilkan. Serem ya Indonesia peringkat 3 penyakit ini.

    BalasHapus
  15. Wah harus ekstra waspada ya kalau benar Indonesia peringkat 3 penyakit ini. Semoga kita semua dilindungi oleh Tuhan YME.

    BalasHapus
  16. Ilmu baru nih... nice story!

    Jadi penasaran nih, gejala awalnya kek gimana mbak?
    #radaparno ��

    BalasHapus