Kutemukan Cincin Berlian Di Mikroskop

Sumber unsplash




















Hai, kawan kamkayah,...
Kali ini aku mau bercerita tentang penemuan cincin berlian di mikroskop. Eits, tapi ini bukan cincin yang dipakai di jari manis ya, cincin ini melingkar di dalam sel erytrisit atau yang kita kenal dengan sel darah merah. Bentuknya cantik banget, yapt, cincin ini adalah  bentuk fase stadium cincin dari infeksi malaria.

Malaria?

Yapt, di Indinesia masih banyak ditemukan parasit ini, terutama di wilayah timur. Namun wilayah lain diseluruh Indonesia juga masih banyak terdapat nyamuk Anopheles pembawa plasmidium ini.
Ini adalah kisah yang bikin saya ngerasa jadi keren, #jiahh, ... Haha, terpaksa muji diri sendiri, di tungguin nggak ada yang muji... Hiks

sumber : unsplash














Waktu itu saya sedang dinas malam di sebuah klinik padang bulan. Dokter donald yang baru pulang dari pulau Nias juga dinas malam. Disela-sela menunggu pasien, kami ngobrol santai bersama dua  perawat lainnya. Dokter Donald mengeluh, setelah pulang dari Nias, ia sering demam dan panas dingin, ia curiga kalau dirinya terkena gigita nyamuk Anopheles betina. Ia memintaku untuk melakukan cek darah. Akupun mengambil sampel darahnya dan melakukan pemeriksaan.

Parasit satu ini, seperti hantu yang sulit sekali ditemukan di dalam darah. Banyak sekali faktor yang menyebabkan tidak ditemukan parasit malaria dalam darah. Aku bicara dari pengalamanku waktu melakukan pemeriksaan. Saat membuat preparat darah tepi, jangan terlalu tebal. Usahakan ujungnya membentuk nyala api. Saat pengecatan dengan giemsa, usahakan jangan terlalu lama, kalau aku suka ngitung 12345 gitu haha.... Lalu cuci...

sumber : unsplash
Nah, kebetulan di klinik tempatku bekerja ada 2 mikroskop yang satu mikroskop Oly***c dan yang satu lagi mikroskop manual, alias jadul dengan penerangan memakai sinar matahari atau lampu sorot.
Aku mencari bentuk malaria di dalam sel darah merah dengan mikroskop Oly***c namun tidak ketemu, lalu aku menggunakan mikroskop jadul, hanya tiga kali lapangan pandang, aku sudah berhasil menemukan cincin bermata satu berwarna merah di dalam sel erytrocyt dokter Donald.
cincin yang indah, sayang ia melingkar di dalam sel darah merah sehingga menyebabkan tubuh jadi meriang, demam tinggi, bahkan sampai mengigil. https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-3462253/kenali-stadium-parasit-malaria-saat-berada-di-tubuh-manusia

Baca juga : Nyawanya Tidak Terselamatkan, Pelajar Ini Tewas Digigit Ular Tanah

sumber : unsplash
Sejak keberhasilanku menemukan cincin bermata jamrut ini, aku jadi merasa tertantang. Aku suka sekali jika dokter meminta pemeriksaan  malaria, tidak seperti dulu, pemeriksaan ini bikin stres karena aku belum pernah berhasil menemukannya, alhasil dilakukan pemeriksaan rujukan.
Tapi sejak peristiwa ini, setiap ada permintaan cek malaria, aku berhasil menemukannya. Apalagi jika pasien dalam keadaan demam. Hal ini mendapat apresiasi dari dokter konsulen Setiap hari ada saja pasien yang datang dengan  pemeriksaan rujukan malaria.  Bahkan ia menjadikan data pasien yang positif malaria menjadi laporan dalam studinya.

Ada kisah drama  yang hingga kini masih kuingat, mungkin takkan bisa  terlupakan, sebuah kisah yang membuatku terhenyak.  betapa berat tanggung jawab yang dipikul seorang analis tatkala menentukan diagnosa suatu pemeriksaan. Dokter akan memberi obat sesuai dengan hasil laporan analis, jika analis salah mendiagnosa suatu pemeriksaan maka  dokterpun kemungkinan besar akan salah memberi obat.

contohnya kasus  yang kualami ini walau tidak fatal namun cukup membuatku bersedih atas keterbatasan ilmu yang kumiliki. layaknya sebuah laboratorium harus memiliki dokter konsulen  yakni dokter penanggung jawab sebuah laboratorium. Namun tidak semua  lab memiliki dokter konsulen apalagi hanya klinik kecil, jarang sekali menyediakan dokter konsulen, termasuk di klinik tempatku bekerja.


sumber : unsplash














Malam itu ada pasien seorang anak lelaki usianya sekitar 12 tahun, pasien datang dengan keluhan menggigil, karena demam tinggi dokter menyarankan agar pasien dirawat. Keluarga pasien setuju  dengan usul dokter. Dokter jaga #ups, saya lupa siapa  dokter jaga malam itu, hihi, maapken ya kawan, soalnya kejadian ini hampir 20 tahun yang lalu, lama banget kan, hehe tetep aja cari pembenaran, tsah...

Hasil Tes laboratorium pemeriksaan Malaria, positif, aku membuat laporan di kertas hasil yakni  malaria Positif plasmodium vivax stadium cincin.  Keesokan harinya, dokter Konsulen Penyakit dalam pun Visit, ia memberi obat sesuai dengan laporan diagnosa yang kutulis di kertas hasil laboratorium. biasanya setelah 2  jam minum obat pasien yang terdeteksi malaria positif akan segera reda demamnya, dan langsung enakan.

sumber : Unsplash


Namuan berbeda dengan pasien kali ini, tidak ada perubahan apapun setelah minum obat dari dokter penyakit dalam tersebut. hingga dokter meminta  cek ulang  malaria keesokan harinya. dan karena aku saat itu sedang menempuh pendidikan, jadi hampir setiap malam aku yang bertugas karena siang hari aku harus ke kampus.

Setelah aku cek ulang, keringatku mulai  bercucuran, ada rasa takut, rasa bersalah di hati. ternyata laporan  diagnosaku sebelumnya salah.  Malam  itu aku tidak menemukan  bentuk gametocyt seperti sobekan kain pada preparatku, namun yang  kutemukan adalah sebuah gametocyt berbentuk pisang.
huhu... ingin rasanya ku kembalikan  hari  kemarin untuk merubah laporan diagnosa pemeriksaanku.  Namun apa daya,  aku cuma makhluk lemah  dan tak berdaya. Kebenaran harus tetap  diungkap, walau  aku tahu resiko yang akan kuterima  dari dokter konsulen.


sumber : Unsplash

Seperti biasa pagi hari dokter konsulen datang untuk visit. Ia membuka laporan hasil diagnosa lab-ku. Ia menggebrak meja mengejutkan  semua suster yang mendampingi. Ia marah  sambil melotot kearahku dan minta penjelasan atas berubahnya diagnosa-ku. yang tadinya malaria plasmodium Vivax menjadi Malaria Plasmodium Palcyparum. Hanya kata maaf yang terucap dari mulutku, karena bagiku cukup sulit untuk membedakan bentuk cincin kedua plasmodium tersebut.

Dokter Jo (nama samaran dokter konsulen)  mengganti obat pasien dan menarik semua obat yang telah diresepkan sebelumnya. Sungguh  Maha Besar Allah yang menciptakan penyakit dan juga obatnya. Dua jam setelah minum obat, demam pasien langsung turun, dan pasien terlihat jauh lebih segar. Hingga keesokan harinya pasien tidak lagi demam, dokter Jo mengijinkan pasien untuk pulang dan berobat jalan saja.

Bagiku pengalaman ini sangat berharga, membuatku lebih berhati hati lagi dalam menentukan diagnosa pemeriksaan. Semoga tidak ada lagi kesalahan yang sama diluar sana. Sekedar himbauan dari saya, alangkah baiknya jika pengelola sebuah klinik atau pun Rumah sakit untuk sering mengirim karyawannya mengikuti pelatihan pelatihan untunk meningkatkan skill SDM.



15 komentar:

  1. Wah masyAllah Allah hebat sekali ya Bun bisa nyiptain kyak cincin gtu di sel darah kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. InsyaAllah ya mbak, bentuknya bagus banget, persis kayak cincin bermata jamrud

      Hapus
  2. MasyAllah Allah hebat banget ya bisa nyiptain kayak gtu di sel darah kita 😍

    BalasHapus
  3. Kuasa Allah ya, seru yah mba "mainannya" mikroskop. Saya nyentuh mikroskop cuma sekali dua kali aja itupun waktu smp kalo ga salah hehehe

    BalasHapus
  4. Saya juga sering kepikiran gini, Mbak. Gimana andai saja hasil lab itu salah, nyawa taruhannya. Dari sini saya mulai menganggap pekerjaan bagian lab patut diapresiasi lebih. Kayaknya yg ngobati emang dokter, tp kan penentuannya dari lab.

    BalasHapus
    Balasan
    1. biasanya dokter akan menyesuaikan hasil lab,dengan diagnosa nya mbak, jika tidak singkron dokter akan minta cek ulang, atau cek lab, rujujan sebagai bahan pebanding.

      Lab itu hanyalah penunjang bagi tegaknya diagnosa dokter
      Begitu yang saya ketahui mbak

      Hapus
  5. Mbak.. Terima kasih sudah membagikan cerita ini yaa.. Saya jadi tahu proses diagnosa suatu gejala penyakit pada pasien.
    Keren Mbak..
    Maha Besar Allah yang menciptakan segala makhluk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama sama mbak dian, 😊😊semoga kita selalu diberi kesehatan ya mbak

      Hapus
  6. Waaah ngeri ya mba, kalau sampai salah diagnosis gini, untungnya segera ketahuan dan bisa ditangani. Pelajaran yang sangay berharga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, karena harusnya memang ada dokter konsulen untuk lab. Jadi hal seperti ini bisa di hindari.

      Hapus
  7. Sebagai tenaga kesehatan saya juga paham sekali rasanya jadi mbak Narti. Pasti sudah keringat dingin bukan hanya takut sama dokter ya mbak lebih kepada tanggung jawab kita sebagai tenaga kesehatan.

    Tenaga kesehatan ini bengkel nyawa kalau selip dikit aja fatal akibatnya. Beda dengan bengkel mobil ada yg rusak ganti beli baru. Lha kalau manusia...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak, tanggung jawab tenaga kesehatan itu sangat besar karena berhubungan dengan nyawa manusia.

      Hapus
  8. Tanggung jawab yang besar sebagai tenaga medis yaa mbak.Padahal para tenaga medis juga manusia.
    Pastinya ada human erornya.

    Kalau saya mau berobat entah itu langsung ke dokter praktek ataupun ke rumah sakit, bener2 banyak berdo'a.

    Karena aktivitas saya di medical representativ sering mendengar cerita spt ini.

    Karena itu saat ini sudah ada sistem akreditasi rumah sakit ya mb.
    Untuk meningkatkan kualitas rumah sakit juga pastinya.

    BalasHapus
  9. Aku selalu saluuut dengan cerita-ceria di dunia medis. Makanya paling suka nonton film atau drama yg temanya dunia kedokteran. Makasih sharingnya ya mbak, jadi makin respect sm tenaga medis.

    BalasHapus