Bersiap Menyongsong Datangnya Senja

Kuperiksa kembali isi koper ku, baju, jilbab, rok, handuk, oh..ya.. ijazah ku,  akte lahir, surat pindah dari kepling (kepala lingkungan), dan tiket pesawat, semua sudah lengkap, besok pukul 10.00 WIB aku sudah harus cek in pesawat.
Tanpa ku sadari sepasang mata mengawasi ku, sorot  mata yang begitu tajam, seolah ingin menghentikan semua kesibukan ku.
"Kamu baru selesai wisuda, kenapa sudah ingin meninggalkan rumah, kamu kan jarang sekali di rumah, pagi sampai sore kuliah, malam kerja, tunggu lah satu bulan ini, mamak masih ingin kamu disini" namun aku sama sekali tak menggubris kata itu, aku hanya ingin secepat nya mengejar mimpiku di seberang lautan.
-
-
-
"Ummi, lihat tuh Hanna, gangguin aku terus!", Hanna jangan ganggu kakak!, besok kakak ujian, "kakak sembunyiin krayon aku mi!, kakak mana krayon aku?", rengek Hanna. Aku cuma menghela nafas menyaksikan ulah kedua putri ku.
"Mik, buatkan teh hangat ya!", tanpa menjawab aku bergegas kedapur dan membuatkan teh hangat, "ini teh nya bi" ku letakan gelas berisi teh hangat itu di meja, kemudian aku berlalu. Ku lanjutkan kembali membersihkan kulkas yang sempat tertunda.
-
-
"Kakak, sarapannya di meja ya,  sebelum sarapan sholat dulu, ayuk buruan mandinya", dengan nada setengah berteriak aku sibuk menyiapkan baju seragam sekolah si kakak. Mondar mandir, kesana kemari, ada saja yang harus diselesaikan.
"Ummi aku sudah siap, ayuk jalan", sambil menggemblok tas sekolahnya, sikakak yang duduk di kelas 3 SD ini, berjalan menuju teras, bergegas aku mengambil kunci motor, setelah berpamitan dengan Abi, kami berangkat ke sekolah.
Sehabis mengantar si kakak sekolah, aku mampir dulu ke tukang sayur langganan ku. Sesampainya di rumah,
Ku letakkan belanjaan ku di dapur, bergegas aku menghampiri Hanna."Hanna, ayuk mandi sayang", Hanna tak menggubris ajakan ku, ia masih asyik nonton film kartun kesukaannya, kulihat ke kamar tidur, Ibra putra bungsu ku masih tertidur pulas. Kembali aku membujuk Hanna untuk mandi, walau sambil bermalas malasan  akhirnya Hanna menuruti ajakan ku. Belum selesai Hanna mandi, Ibra sudah bangun dari tidurnya, aku pun memandikan kedunya bersamaan.
Setelah selesai mandi kami sarapan seadanya, bekal untuk sekolah Hanna yang masih duduk di Taman Kanak Kanak telah selesai aku siapkan. "Abi Hanna berangkat sekolah dulu ya", kata Hanna sambil menyalami dan mencium tangan abinya. Ibra yang mengintil di belakang Hanna ikut menyalami dan mencium tangan Abi sambil memberi senyuman riang pada Abinya. Lalu Hanna dan Ibra berlari ke teras, aku sudah menunggu di atas motor. Dan kami pun berangkat ke sekolah.
Aku bersyukur karena Hanna tak perlu lagi ditunggui di sekolahnya. Aku dan Ibra bergegas pulang ke rumah.
-
-
Aku memulai aktifitasku dengan memasak, lalu mencuci piring bekas makan tadi malam dan juga sarapan pagi tadi, lalu beralih membersihkan rumah, merapihkan sisa mainan anak anak yang masih tercecer. Setelah selesai menyapu lantai, aku menoleh ke jam dinding, kulihat jarum jam sudah menunjuk ke angka 11, "hem, waktunya hanna di jemput" bisik ku dalam hati. Bergegas aku ambil kunci motor lalu menaikkan ibra di kursi tempelnya,
Kemudian pukul 12.30 WIB, aku harus menjemput si kakak pula.
Setelah semua berkumpul di rumah, kami pun makan siang, rumah yang sudah bersih kini mulai berantakan lagi, piring kotor mulai memenuhi meja makan. Tapi ada rasa haru di dada ini, ada rasa bahagia di hati ini, yang tak bisa ku ungkap dengan kata kata. Hanya jemari ini yang bergerak dengan sigap mengumpulkan piring dan gelas kotor lalu membawanya ke washtafel, aku mengambil kain lap, dan kembali membersihkan sisa makanan yang tercecer di meja. Abi yang memang membuka usaha di rumah, sudah meninggalkan meja makan dan kembali dengan aktifitas nya, sikakak juga sudah asyik dengan urusan nya, sementara Hanna dan Ibra kembali bermain lego, sambil sesekali terdengar teriakan teriakan kecil, karena berebut mainan.
Aku mengambil gadget ku, lulu mulai menikmati waktu ku.
Tiba tiba aku tersentak saat mataku tertuju pada konten di salah satu FB teman ku, video yang hanya berdurasi 3 menit itu mampu membuat angan ku melayang jauh, menembus waktu yang telah berlalu, aku terkenang kembali pada mamak, yang aku tinggalkan jauh diseberang lautan. Tiba tiba aku sangat merindukan mamak yang jauh di kota Medan, ah.. betapa kini aku merasakan apa yang mamak rasakan, tak ingin jauh dari anak anak, tapi betapa pun kuat keinginan itu tak mampu membendung langkah anakmu, maafkan aku mak, semoga Allah selalu menjaga mu, melindungi mu dan merachmati disetiap langkah mu. Begitu berat beban yang kau pikul, saat mulai mengandung, melahirkan, dan membesarkan kami anak anak mu, kau hampir tidak punya waktu untuk dirimu sendiri, selain mengurus rumah tangga memasak membersihkan rumah bahkan kau mencuci pakaian saat kami semua telah tertidur, kau harus membantu bapak berjualan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Setelah tenaga mu terkuras habus, tubuh mu mulai menua, kami anak anak mu pergi meninggalkan mu, begitu pun bapak, belum sempat ia nikmati lelahnya bapak sudah harus pergi memenuhi panggilan Ilahi, tinggallah mamak seorang diri, dirumah yang dulu kau siapkan sebagai tempat kami berteduh, tapi kini semua kamar yang kau siapkan untuk kami tidur telah kosong, kami pergi mencari kehidupan kami sendiri, kini kami sibuk dengan rumah tangga kami, terkadang kami sering lupa menyapa mu walau hanya dari telphon, bahkan terkadang kami lupa menyebut mu dalam sholat kami karena sibuknya kami dengan urusan kami.
Tak terasa air mata ini menetes, aku rindu mamak, ingin rasanya aku berlari mengejarnya, namun ia sangat jauh diseberang sana. Ku tatap si kakak yang sedang sibuk memainkan pianika nya, lalu kutatap Hanna dan Ibra yang kini sedang kejar kejaran. Terbersit dalam hati ini, pada saatnya jika Allah mengizinkan aku terus mendampingi kalian, saatnya nanti, akan kah kurasakan seperti yang dirasakan mamak?

0 komentar:

Posting Komentar